BP2TSTH Kuok Diseminasikan Hasil Litbang melalui Kegiatan PKK

By Sutomo Dardi 23 Okt 2020, 10:18:53 WIBBERITA LITBANG & INNASI

BP2TSTH Kuok Diseminasikan Hasil Litbang melalui Kegiatan PKK

Keterangan Gambar : menjelaskan beberapa produk olahan kelor, Opik Taupik Akbar (paling ujung) dan Ibu PKK Kec.Salo


[FORDA] _Kegiatan diseminasi hasil penelitian dan pengembangan dapat dilakukan melalui beragam cara. Salah satunya melalui kegiatan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) seperti yang dilakukan Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Serat (BP2TSTH), Kamis (1/10/2020) di Desa Ganting, Kecamatan Salo, Kampar, Riau. Bermitra dengan Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Kuok, BP2TSTH berbagi tentang diversifikasi tanaman kelor dan teknologi pengolahannya.

Kepada 40 orang ibu PKK sekaligus anggota Kelompok Wanita Tani yang hadir, Opik Taupik Akbar, S.Hut, peneliti BP2TSTH yang menjadi narasumber menjelaskan bahwa tanaman kelor memiliki kandungan nutrisi yang sangat lengkap dibanding jenis sayuran lain. Kelor mengandung protein, vitamin, mineral, dan berbagai zat fitokimia yang berfungsi sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antikanker. Menurutnya, kajian fitokimia mengenai khasiatnya juga sudah banyak diteliti dan disampaikan dalam jurnal penelitan.

“Kelor yang kaya nutrisi dan sangat bermanfaat ini bisa dikonsumsi langsung layaknya sayuran seperti bayam, daun singkong dan kangkung. Selain itu, kelor juga bisa diolah menjadi teh dan tepung. Teknologi pengolahan untuk dijadikan teh dan tepung juga sangat mudah sehingga dapat diaplikasikan oleh masyarakat,” ujar Opik yang diikuti paparan teknik pengolahan daun kelor menjadi teh ataupun tepung kelor, yang ternyata sangat mudah dan bisa diaplikasikan di rumah masing-masing.

Opik juga memperlihatkan dan menjelaskan beberapa produk olahan kelor hasil pengembangan BP2TSTH lainnya diantaranya kapsul kelor, dan sabun kelor. Ibu-Ibu antusias menanyakan manfaat masing-masing produk dan cara membuatnya.

Dari sekian banyak ibu-ibu yang mengikuti kegiatan ini, ternyata masih sedikit yang mengetahui keberadaan pohon kelor. Sebagian besar ibu-ibu bahkan belum pernah melihat bentuk pohonnya, apalagi mendengar manfaatnya. Kebanyakan hanya mendengarnya dari peribahasa “Dunia Tak Selebar Daun Kelor”. Wajar saja, karena memang keberadaan kelor di Kabupaten Kampar masih sangat sedikit dan kelor pun tidak dijual di pasar layaknya sayuran lain.

Salah satu peserta yang tertarik pun bertanya tentang teknik budidaya pohon kelor. “Bapak sudah menyampaikan mengenai manfaat kelor serta cara pengolahannya. Selanjutnya, bagaimana cara budidaya tanaman kelor ini sebagai tanaman pekarangan?,” ujar Murni.

“Budidaya kelor tergolong mudah, bisa dibudidayakan dari biji maupun stek batang. Untuk budidaya dari biji, cukup masukkan biji kelor ke dalam polybag dan tutup dengan tanah kurang lebih 1 cm. Biji akan berkecambah dalam waktu 4-10 hari. Letakkan bibit dalam ruang terbuka atau terkena sinar matahari langsung. Untuk stek, cukup ditancapkan di tanah seperti menanam singkong,” jawab Opik.

“Untuk budidaya tanaman kelor, nanti bisa dibantu oleh Ibu Dasmawati selaku penyuluh pertanian Desa Ganting. Karena salah satu tugas penyuluh adalah melakukan pendampingan. Sehingga masyarakat yang ingin membudidayakan kelor bisa melakukannya dengan baik,” tambah Lina penyuluh pertanian di Kecamatan Kuok, selaku pendamping kegiatan tersebut.

Lina mengatakan, kegiatan ini sesuai dengan Program Ocu Mapan (Optimalisasi Cara Untuk Mandiri Pangan) yang tengah digalakkan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kampar.

“Salah satu teknis optimalisasinya dengan memberdayakan pekarangan rumah sebagai sumber makanan dan obat-obatan, demi terwujudnya keluarga yang lebih sehat dan berdikari untuk pangan,” ujar Lina menyampaikan pesan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kampar.

Sebelumnya, saat membuka acara, Ibu Kepala Desa Ganting, Hj. Zubaidah, SE berharap kegiatan ini bisa memberikan keberkahan dan ilmu yang akan disampaikan dapat bermanfaat dan menjadi amal ibadah bagi narasumber.

“Kami juga berterima kasih atas pemberian bantuan bibit kelor yang akan kita bagikan pada akhir pertemuan ini. Saya harap Ibu-ibu mau menanam bibit kelor tersebut di halaman rumahnya masing-masing,” ujar Zubaidah.

Di tempat berbeda, Priyo Kusumedi, S.Hut, MP, Kepala BP2TSTH merespon baik upaya penyebarluasan informasi teknis yang dihasilkan dari kegiatan litbang tersebut.

“Beragam cara untuk menyentuh langsung kalangan yang membutuhkan informasi patut kita apresiasi. Selanjutnya yang menjadi tantangan adalah mengemas paket Iptek agar tepat dan berdaya guna, sehingga ekonomis pada saat pengaplikasiannya oleh masyarakat luas,” tutur Priyo.

Sebagai informasi, kegiatan yang berlangsung dengan penerapan protokol kesehatan ini berjalan dengan lancar dan penuh semangat. Diskusi yang terjadi selama acara berlangsung menandakan antusiasme Ibu-Ibu PKK dalam mengikuti kegiatan tersebut.*** OTA



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook