Gubernur Sumbar Canangkan Nagari Taxus Pandai Sikek

By Sutomo Dardi 01 Des 2021, 16:28:06 WIBBERITA LITBANG & INNASI

Gubernur Sumbar Canangkan Nagari Taxus Pandai Sikek

Keterangan Gambar : Kepala BP2TSTH (dua kiri) foto bersama dengan Gubernur Sumatera barat (baju Putih) dan apatur terkait kegiatan.


Singgalang (30/11/21)_Upaya pelestarian konservasi Taxus sumatrana yang dilakukan oleh Pemerintah Sumatera Barat dengan mencanangkan Nagari Pandai Sikek sebagai Kampung Taxus. Pencanangan tersebut diresmikan oleh Gubernur Sumatera Barat H. Mahyeldi, S.P. Peresmian tersebut merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan kelestarian taxus di singgalang.

Acara pencanangan Nagari Taxus yang dilakukan di lereng Gunung Singgalang, Bukik Kumayan dihadiri oleh Gubernur Sumatera Barat, Bupati Tanah Datar, Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Kepala Balai Litbang Teknologi Serat Tanaman Hutan, Kepala BKSDA Sumbar, Kepala TN Siberut, CSR PT. Semen Padang (PT.SIG), KPHL Bukit Barisan, Wali Nagari Pandai Sikek, KTH Taxus Singgalang dan tamu undangan serta Ninik Mamak Pandai Sikek.

Pencanangan Nagari Taxus ini merupakan sebuah salah satu bentuk kontribusi dari tim peneliti dalam hal konservasi taxus. Litbang Kuok sejak tahun 2015 mulai intens melakukan penelitian taxus di Sumatra. Pada tahun 2019 Litbang Kuok telah berkontribusi dalam melakukan upaya konservasi Taxus sumatrana di Singgalang Sejak Tahun 2019. Upaya konservasi ini dilakukan bersama dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Taxus Singgalang.

Gubernur Sumatera Barat, Bapak Mahyeldi Ansharullah dalam sambutannya menyampaikan : “Salaweh iko dunia ternyata ado tanaman langka nan baguno untuk dunia di Nagari Pandai Sikek”. Lebih lanjut Gubernur Sumbar yang akrab dipanggil Buya menyatakan: “Pohon taxus yang tumbuh di Singgalang merupakan berkah untuk Nagari Pandai Sikek, Pohon ini merupakan tanaman herbal yang dimanfaatkan sebagai tanaman obat”.

“Melalui pencanangan Nagari Pandai Sikek menjadi kampung Taxus, manjadikan Nagari Pandai Sikek sebagai Nagari Taxus mendunia Konservasi Taxus, imbas positif tentu agar peningkatan perekonomian masyarakat dan kemajuan daerah di masa mendatang, akan tetapi pembudidayaan tanaman Taxus ini menjadi investasi bagi generasi berikutnya untuk meningkatkan derajat kesehatan warga di seluruh penjuru dunia.” Kata Buya Mahyeldi

Buya Mahyeldi memberi apresiasi dan menyambut baik kepada para penggagas acara pencanangan “Nagari Taxus” ini, mudah-mudahan dengan melakukan inisiatif acara ini akan menggaungkan Sumatera Barat dan mendorong masyarakat di Nagari Pandai Sikek dan umumnya masyarakat dapat di kaki Gunung Singgalang kembangkan tanaman Taxus secara mandiri, sehingga kedepannya Nagari pandai Sikek dikenal bukan hanya dari songket dan ukirannya saja  tapi juga dari konservasi Taxus “Dari pandai Sikek mendunia konservasi taxus” Ungkap Buya

“Dari Pandai SIkek, untuk Kesehtan Dunia”, tutup Buya Mahyeldi

Selaras dengan hal tersebut, Priyo Kusumedi, S. Hut, MP, Kepala Balai Litbang Teknologi Serat (BP2TSTH) dalam sekilas hasil litbang tentang Taxus sumatrana di Badan Litbang dan Inovasi, KLHK menyampaikan “Kegiatan Taxus di Singgalang sudah Kita lakukan Peneliti kami bersama dengan Masyakat/KTH Taxus singgalang sejak tahun 2019,  mulai dari ekplorasi potensi di Singgalang, Budidaya, sampai dengan pemanfaatan taxus secara lestari”

Priyo menyatakan “Hasil penelitian menyebutkan bahwa T.sumatrana memiliki potensi yang besar sebagai sumber biofarmasi.  Pada daun, kulit dan ranting Taxus sumatrana terdapat senyawa yang berfungsi sebagai anti fungi, anti tumor, antiimflamasi, anti bakteri, anto okesidan, anti diabetes dan anti kanker”

“T.sumatrana mengandung taxane diterpenoid atau paclitaxel (taxol) yang bersifat anti kanker. Seorang pasien membutuhkan taxol untuk pengobatan sebanyak 2 – 2.5 gr tersebut setara dengan 6-8 pohon taxus. Harga paclitaxel (taxol) didunia sebesar USD 70 (10 mg), sehingga untuk pengobatan membutuhkan biaya sebanyak USD 17.500,” ungkap Priyo

Lebih lanjut Priyo mengatakan bahwa pertumbuhan yang lambat dan regenerasi yang relatif sulit, ditambah lagi daerah penyebaran yang terbatas, menyebabkan populasi hampir semua species taxus di dunia menjadi sangat kecil dan sangat gampang mengarah pada kelangkaan. Sehingga, walaupun di Indonesia belum diekploitasi, T. sumatrana sudah masuk dalam daftar tanaman yang dilindungi melalui Permen LKH No. 106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Mengingat populasinya yang sangat kecil dengan penyebaran yang terbatas dan karakter pertumbuhan yang lambat tersebut, untuk mendapatkan potensi kesehatan yang luar biasa dari cemara Sumatera ini haruslah dilakukan dengan pemanfaatan yang lestari (sustainable utilization).

“Pemanfaatan lestari dengan membudidayakan dan memanen tanpa menebang/mematikan tanaman ini sangat memungkinkan untuk dilakukan karena karakter pertumbuhannya yang sangat mudah bercabang pada saat pertumbuhan vegetatif. Tentu saja, ada cara lain dalam mendapatkan senyawa spesifik anti kanker, Taxol®, melalui bioteknologi yang memerlukan investasi dan keahlian tertentu,” tutup Priyo

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Sumatera Barat, Bapak Yozawardi mengatakan manfaat biofarmaka yang begitu besar dapat dimanfaatkan dari taxus ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah dan produktivitas produk pertanian dan kehutanan.

“Taxus ini mempunyai nilai tambah dan manfaaat yang banyak terutama di bidang farmakologi dan ekonomi, diharapkan dengan pencanangan kampung taxus ini dapat menjaga kelestarian taxus di Singgalang serta meningkatkan pendapatan masyarakat” ucap Yozarwardi sambil melakukan penanaman taxus.

Capaian hasil pencanangan nagari Pandai Sikek sebagai Nagari taxus atas kolaborasi antara BKSDA Sumbar, BP2TSTH dan Dinas Kehutanan serta KTH Taxus Singgalang. Terkait capaian ini Dodi Frianto, SP, M. Si, Peneliti Muda BP2TSTH Kuok menyebutkan cukup berhasil. “Pendampingan tim penelitian sejak tahun 2019 sudah menunjukan hasil yang positif, KTH sudah mampu melakukan perbanyakan dengan vegetative, namun yang akan menjadi perhatian lanjutan adalah perlu dilakukan pengayaan genetic dari beberapa daerah lain seperti kerinci, dempo dan sibuaton sehingga keragaman genetik taxus singgalang lebih baik lagi ,” ujar Dodi sambil menjelaskan tentang taxus di persemaian taxus singgalang.

Selain itu Kepala BKSDA Sumatera Barat Ardi Andono menjelaskan “Taxus sumatrana ini masuk dalam daftar tanaman yang dilindungi dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/Menlhk/Setjen/ Kum.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/ 6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi.”

“Untuk melindungi tumbuhan langka ini diperlukan sinergitas seluruh lapisan, baik masyarakat, pemerintah maupun swasta. Sinergitas Gerakan konservasi ini akan terus berlanjut sehingga tidak hanya di Nagari Pandai Sikek saja namun bisa untuk seluruh Nagari yang ada di Sumbar” Ungkap Ardi

"Harapannya dapat juga berkembang pada Nagari atau desa penyangga lainnya. Mengingat tumbuhan ini dilindungi dan bernilai jual tinggi, maka nagari harus mampu melindungi dari ancaman pencuri," Lanjut Ardi

Harapan ke depan, sinergitas yang ada hingga saat ini antara Dinas Kehutanan Sumatera Barat, BKSDA Sumatera Barat, BPDASHL Agam Kuantan, BP2TSTH Kuok, pemerintah daerah dan pemangku adat yang ada di Nagari Pandai Sikek tetap terlaksana. Sehingga memberikan kontribusi yang nyata, Pandai Sikek Nagari Taxus, dari Pandai Sikek untuk Kesehatan Dunia yang memiliki imbas positif terhadap  peningkatan perekonomian masyarakat, kemajuan daerah dan Konservasi Taxus. *** Dodi frianto



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook